Agustus 2015 - Jejaring Kimia

Hot

Post Top Ad

Agustus 11, 2015

Reaksi-reaksi Unsur Halogen

Agustus 11, 2015

Unsur Halogen

Unsur-unsur halogen yang terletak pada golongan VIIA merupakan unsur yang sangat reaktif dengan electron valensi ns2 np5, sehingga hanya butuh 1 elektron untuk membentuk konfigurasi stabil seperti halnya gas mulia. Kereaktifan unsur halogen memungkinkan berbagai senyawa seperti senyawa alkil halida (gugus alkil dan halogen), senyawa oksihalogen (asam oksi dan halogen), senyawa ion (logam golongan IA dan IIA), dan senyawa antar halogen.
Berikut penjelasan singkat mengenai reaksi-reaksi halogen:

Reaksi halogen dengan non logam

Halogen bereaksi dengan hampir semanya non logam. Jenis senyawa yang terbentuk sebagian besar adalah senyawa kovalen. Beberapa contoh reaksi halogen yang banyak ditemukan senyawanya adalah hydrogen halida atau biasa disebut asam halida jika dilarutkan dalam air dan non logam halida (reaksi halogen dengan unsur-unsur penting seperti O, P, C, maupun S)

Hydrogen halida

Hydrogen bereaksi dengan halogen membentuk senyawa hydrogen halida yang semuanya adalah gas tidak berwarna. Persamaan reaksi halogen (X) dengan hydrogen adalah sebagai berikut:

H2(g) + X2(g) --> 2HX(g)
 
Contoh reaksi hydrogen dan halida adalah sebagai berikut:

Reaksi antara Hidrogen dan Fluor : reaksi berlangsung hebat.

H2 + F2 --> 2HF

Reaksi antara hydrogen dan Clor : reaksi berlangsung lambat di tempat gelap. Tetapi, jika di bawah sinar matahari, akan terjadi ledakan.

H2 + Cl2 --> 2HCl
Reaksi antara hydrogen dan Brom : reaksi berlangsung pada suhu 300oC dan menggunakan katalis Pt.

H2 + Br2 --> 2HBr

Reaksi kesetimbangan antara hydrogen dan Yod : reaksi berlangsung lambat pada suhu 300oC menggunakan katalis Pt. reaksi bersifat dapat balik dan hanya sebagian yang bereaksi.

H2 + I2 <--> 2HI
Baca juga, Identifikasi unsur halogen di alam

Non logam halida

Halogen bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti C, P, O, dan S membentuk senyawa non logam halida. Contoh non logam halida adalah CCl4, PCl3, PF3, OF2, SCl2, dan S2Cl2.

Contoh reaksi non logam dengan halida adalah sebagai berikut:

Reaksi karbon dengan Clor : reaksi memerlukan panas (bersifat endotermik)

C(s) + 2Cl2(g) --> CCl4(l)
 
Reaksi fosfor dengan clor : pemanasan bertahap fosfor dalam aliran lambat klorin menghasilkan PCl3.
2P(s) + 3Cl2(g) --> 2PCl3(l)
 
Jika klorin yang direaksikan berlebih, maka akan dihasilkan padatan PCl5 dengan warna kuning pucat.
2P(s) + 5Cl2(g) --> 2PCl5(s)

Reaksi halogen dengan logam

Reaksi halogen dengan logam menghasilkan senyawa ionic. Contoh reaksi halogen dengan logam adalah sebagai berikut:
2Na(s) + Cl2(g) --> 2NaCl(s)
Ca(s) + F2(g) --> CaF2(s)
Mg(s) + Cl2(g) --> MgCl2(s)
Baca juga, Reaksi pada alkohol (alkanol) dan eter (alkoksi alkana)

Reaksi halogen dengan air

Fluorin bereaksi dengan air membentuk asam fluoride dengan reaksi sebagai berikut:

2F2(g) + H2O(g) <--> 4HF(g) + O2(g) 

Reaksi air dan fluorin berlangsung hebat karena air terbakar di dalam fluorin.
Sementara halogen lainnya bereaksi dengan air melalui reaksi disproporsionasi membentuk asam halide dan senyawa oksihalogen dengan reaksi sebagai berikut:

X2 + H2O <--> HOX + HX

Contoh reaksi halogen (kecuali F2) dengan air adalah sebagai berikut:

Cl2 + H2O <--> HOCl + HCl
Br2 + H2O <--> HOBr + HBr
I2 + H2O <--> HOI + HI

Reaksi halogen dengan basa

Halogen bereaksi dengan basa membentuk senyawa halida yang kemudian mengalami reaksi disproporsionasi membentuk senyawa oksihalogen.

Berikut contoh reaksi halogen dengan basa:
Fluorin bereaksi dengan basa membentuk oksigen difluorida OF2 dan ion fluoride F-, dengan reaksi sebagai berikut:
2F2(g) + OH-(aq) --> OF2(g) + 2F-(aq) + H2O(l)
 
Sedangkan klorin, bromine, dan iodine bereaksi dengan basa membentuk ion hipohalit OX- dan ion halida X- dengan reaksi sebagai berikut:

X2(g) + 2OH-(aq) --> OX-(aq) + X-(aq) + H2O(l)

Ion OX- yang terbentuk mengalami reaksi disproporsionasi membentuk ion halat XO3- dan ion halida X-, dengan reaksi sebagai berikut:
3OX-(aq) --> XO3-(aq) + 2X-(aq)
 
Contoh reaksi halogen dengan basa adalah sebagai berikut:
Chlorine dan basa : ion OCl- yang stabil pada suhu ruang akan terdisproporsionasi menjadi ClO3- jika dipanaskan, reaksinya adalah sebagai berikut:

Cl2(g) + 2OH-(aq) --> OCl-(aq) + Cl-(aq) + H2O(l)
3OCl-(aq) --> ClO3-(aq) + 2Cl-(aq)
 
Bromine dan basa : ion OBr- terdisproporsionasi dengan cepat pada suhu ruang, reaksinya adalah sebagai berikut:

Br2(g) + 2OH-(aq) --> OBr-(aq) + Br-(aq) + H2O(l)
3OBr-(aq) --> BrO3-(aq) + 2Br-(aq)
 
Iodine dan basa : ion OI- bereaksi sangat cepat, sehingga sulit untuk diamati, reaksinya adalah sebagai berikut:

I2(g) + 2OH-(aq) --> OI-(aq) + I-(aq) + H2O(l)
3OI-(aq) --> IO3-(aq) + 2I-(aq)

Reaksi antar halogen

Reaksi antar halogen termasuk reaksi substitusi, membentuk senyawa antar halogen, dengan reaksi sebagai berikut:

X2 + Y2 --> 2XY

Contoh reaksi antar halogen adalah sebagai berikut:

Cl2 + F2 --> 2ClF
I2 + Cl2 --> 2ICl
At2 + Br2 --> 2AtBr

Unsur halogen dengan periode 3 ke atas (Cl, Br, I, At) dapat bereaksi menurut persamaan reaksi berikut:

X2 + nY2 --> 2XYn

Reaksi ini menghasilkan senyawa halogen dengan beberapa bilangan oksidasi. Contoh reaksinya adalah sebagai berikut:

Biloks +3
Cl2 + 3F2 --> 2ClF3

Biloks +5
Br2 + 5F2 --> 2BrF5

Biloks +7
I2 + 7F2 --> 2IF7
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Agustus 11, 2015

Agustus 04, 2015

Perbedaan Sifat Larutan Hipotonik, Isotonik, dan Hipertonik

Agustus 04, 2015

A. Tekanan Osmotic

Salah satu sifat koligatif larutan elektrolit adalah tekanan osmotic. Tekanan osmotic atau tekanan osmosis (phi) adalah tekanan hidrostatis yang terbentuk pada larutan untuk menghentikan proses osmosis pelarut ke dalam larutan melalui selaput semi-permeabel. Osmosis sendiri merupakan peristiwa difusi atau perpindahan pelarut dari suatu larutan lebih encer atau pelarut murni ke larutan yang lebih pekat melalui selaput semi-permeabel. Salah satu contohnya adalah masuknya air tanah ke tanaman melalui sel akar.
Nilai tekanan osmotic suatu larutan dapat dihitung menggunakan persamaan Van/t Hoff, yang identik dengan Hukum Gas Ideal berikut:


phi V = nRT
phi = n/V RT atau phi = M R T

Dengan :
phi : tekanan osmotic (atm atau Pa)
V : volume larutan (L)
n : mol zat terlarut (mol)
T : Suhu (Kelvin)
R : 0,082 L atm/mol K atau 8,3145 m3 Pa/mol K
Baca juga, Diagram Fase Pada Materi Sifat Koligatif Larutan

B. Hipotonik, Isotonik, dan Hipertonik

 sifat larutan hipotonik, isotonik, hipertonik

Klik gambar untuk memperjelas
Hipotonik, Isotonik, dan Hipertonik adalah istilah yang digunakan untuk membandingkan tekanan osmotic dari cairan terhadap plasma darah yang dipisahkan oleh membrane sel. Hal ini dapat dipahami dengan menyimak apa yang terjadi jika sel darah merah diletakkan dalam medium berbeda-beda, yaitu air, larutan NaCl 0,9%, dan larutan NaCl 5,0%. Gambar berikut akan membantu memahami perbedaan antara hipotonik, isotonic, dan hipertonik.

1. Hipotonik

Jika phi cairan < phi plasma darah, maka cairan bersifat hipotonik terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran pelarut air dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan menggembung dan dapat pecah.

2. Isotonic

Jika phi cairan = phi plasma darah, maka cairan bersifat isotonic terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran keluar masuk sel sama dengan nol. Akibatnya, sel darah merah tidak menggembung atau mengerut.
Baca juga, Membandingkan Titik Didih Larutan NaCl dan Air

3. Hipertonik

Jika phi cairan > phi plasma darah, maka cairan bersifat hipertonik terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran air dari dalam ke luar plasma. Akibatnya, sel darah merah akan mengerut karena kehilangan air.

Keterangan :
Kata "phi" digunakan untuk mewakili tekanan osmotik larutan, karena simbol phi yang biasa dipakai tidak terbaca dalam mode html. Jika ada yang tahu, saya mohon konfirmasi di BUKU TAMU saya. TERIMA KASIH.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Agustus 04, 2015

Post Top Ad