November 2013 - Jejaring Kimia

Hot

Post Top Ad

November 26, 2013

Ikatan Kimia dan Kestabilan Atom

November 26, 2013 5
Unsur-unsur yang ada di alam pada umumnya tidak terdapat dalam bentuk bebas. Contoh logam besi Fe terdapat dalam mineral hematite Fe2O3, magnetit Fe3O4, maupun Limonit HFeO2. Contoh lain adalah logam tembaga Cu terdapat dalam mineral kalkopirit CuFeS2, logam Cobalt Co dalam mineral cobaltit CoAsS, logam Litium dalam mineral spodumen LiAlSi2O6, dan logam natrium dalam air laut maupun NaCl.

Tidak hanya logam, non logam juga terdapat dalam bentuk mineralnya seperti:
  1. belerang S dalam kelompok mineral sulfate (contoh mineral gypsum CaSO4. 2H2O)
  2. fosfor F dalam kelompok mineral fosfat (contoh mineral chlorapatite Ca5(PO4)3(OH,F,Cl)
  3. Chlorine dalam kelompok mineral halida (contoh mineral carnalite KMgCl3. 6H2O) dsb.

Dari penjelasan singkat di atas maka timbul pertanyaan seperti ini “Mengapa unsure jarang ditemukan dalam bentuk bebas?”

Penjelasan berikut akan menjawab pertanyaan di atas.

Jika berpatokan pada kalimat pertama di atas yang menyatakan bahwa “… pada umumnya unsure tidak terdapat dalam bentuk bebas”. Kalimat ini mengindikasikan bahwa terdapat satu kelompok atau golongan unsure yang keberadaannya bebas atau stabil di alam. Stabil dalam arti tidak terdapat dalam bentuk mineral atau bersenyawa atau bereaksi dengan unsure/atom lain melainkan berdiri sendiri. Kelompok/golongan unsure apakah yang dimaksud? Golongan unsure yang dimaksud adalah golongan VIIIA atau golongan unsure gas mulia yaitu Helium, Neon, Argon, Kripton, Xenon, dan Radon. Mengapa unsure-unsur gas mulia dikatakan stabil?

Unsure dikatakan stabil jika jumlah elektron pada kulit terakhirnya (elektrom valensi) memenuhi aturan duplet (max 2 elektron pada kulit terakhir seperti konfigurasi ekektron unsur Helium) dan aturan octet (max 8 elektron pada kulit terakhir). Unsure-unsure gas mulia memenuhi kedua aturan ini. Bagaimana dengan unsure/atom lain selain golongan VIIIA? Untuk menjawab pertanyaan ini, simak beberapa konfigurasi berikut, lalu bandingkan dengan konfigurasi unsure gas mulia/golongan VIIIA.

Tabel 1. Konfigurasi unsure periode 3
ikatan kimia
 
Tabel 2. Konfigurasi unsure gas mulia
ikatan kimia

Bagaimana dengan unsure-unsur selain gas mulia? Untuk mencapai kestabilan seperti halnya konfigurasi unsure gas mulia, unsure-unsur yang tidak stabil akan melepas dan/ menerima electron terakhir sehingga akan membentuk ion positif (jika melepas electron) dan/ ion negative (jika menerima elektron).

Table 3 dan 4 berikut menggambarkan proses pembentukan ion positif dan ion negative untuk mencapai kestabilan seperti konfigurasi gas mulia.

Tabel 3. Pembentukan ion positif


Besarnya muatan ion pada ion positif tergantung pada jumlah electron valensi yang dilepaskan.

Table 4. Pembentukan ion negatif


Besarnya muatan ion pada ion negative tergantung pada jumlah electron yang diterima untuk mencapai konfigurasi electron stabil seperti halnya gas mulia.

Bagaimana hubungan antara ikatan kimia dengan kestabilan unsure/atom? Jelas terdapat hubungan antara ikatan kimia dengan kestabilan unsur. Unsur yang tidak stabil akan berikatan dengan unsur lain dengan cara melepas dan/ menerima electron sehingga membentuk suatu senyawa (pada materi selanjutnya akan dijelaskan pada pembahasan tentang pembentukan ikatan ion). Beberapa unsur lain juga menggunakan electron valensinya secara bersama-sama untuk membentuk ikatan kimia (pada materi selanjutnya akan dijelaskan pada pembahasan tentang pembentukan ikatan kovalen).

Kesimpulan akhir : Usaha untuk mencapai suatu kestabilan seperti konfigurasi gas mulia mendorong suatu unsur untuk saling berikatan sehingga terbentuklah suatu senyawa yang stabil.

Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 26, 2013

November 24, 2013

Sumber-Sumber Kontaminasi Sampel Lingkungan

November 24, 2013 2
Kontaminasi merupakan sumber utama kesalahan (error) dalam semua jenis uji parameter lingkungan. Proses pengambilan sampel dan pengujian laboratorium sangat memungkinkan kontaminasi dari berbagai sumber. Oleh sebab itu pengambilan sampel lingkungan dadn analisis harus dapat mengidentifikasi sumber-sumber kontaminasi, baik pada saat pengambilan sampel maupun pengujian di laboratorium.

Sumber-sumber potensial kontaminasi sampel lingkungan

Tahapan Kritis
Sumber-sumber Kontaminasi
Pengambilan sampel Peralatan pengambilan sampel, penanganan sampel (misalnya penyaringan), pengawetan wadah, kondisi lingkungan (ambien)
Transportasi dan penyimpanan Wadah, kontaminasi silang dari sampel lain atau reagen, penanganan sampel
Preparasi Peralatan gelas, reagen, kondisi lingkungan, penanganan sampel
Analisis Peralatan gelas, peralatan pengujian, reagen, kondisi pengujian

Jenis kontaminan dari bahan peralatan pengambilan sampel

Bahan Peralatan
Jenis Kontaminan
Polyvinylchloride (PVC) - Threaded joints Kloroform
Polyvinylchloride (PVC) - Cemented joints Metil etil keton, toluen, aseton, metil klorida, bensen, etil asetat, tetrahidrofuran, sikloheksanon, senawa Sn organik. dan vinil klorida
Polytetrafluoroethelene (Teflon) Tidak ada yang dapat dideteksi
Polypropylene atau Polyethelene Plasticizers dan phtalates
Fiberglass-reinforced epoxy (FRE) Tidak ada yang dapat dideteksi
Stainless steel Cr, Fe, Ni, dan Mo
Glas B dan Si

Sumber utama kontaminasi adalah peralatan pengambilan sampel. Hal itu disebabkan peralatan yang terbuat dari bahan tertentu dicuci dengan cara kurang tepat atau peralatan yang sebelumnya sudah dipakai tidak dicuci lebih lanjut sehingga terjadi kontaminasi silang.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 24, 2013

November 21, 2013

Persamaan Reaksi Kimia antara Larutan Asam dan Basa

November 21, 2013 12

Pengertian Asam Basa

Asam basa merupakan dua larutan yang menghasilkan ion jika dilarutkan dalam air (Asam Basa Arrhenius). Dikatakan asam jika larutan tersebut menghasilkan ion H+ dan sisa asamnya berupa non logam.

HA --> H+ + A- (A- merupakan sisa asam/non logam).

Sedangkan basa merukapakan larutan yang menghasilkan ion OH- dan sisa basanya berupa logam (golongan IA, IIA, Al dan Fe).

BOH --> B+ + OH- (B+ merupakan sisa basa/logam).

Secara umum reaksi asam basa adalah sebagai berikut:

HA + BOH --> BA + H - OH (BA merupakan garam)

Untuk mempermudah dalam menyetarakan reaksi asam basa, maka saya membaginya dalam 4 kelompok.

Kelompok 1: Larutan asam yang bervalensi 1 (misalnya HCl, HBr, HNO3) dan basa bervalensi 1 (misalnya NaOH, LiOH, KOH); Larutan asam yang bervalensi 2 (misalnya H2S, H2SO4, H2CO3) dan basa bervalensi 2 {Mg(OH)2, Ca(OH)2, Be(OH)2}.

Jika kedua larutan yang bervalensi sama saling berikatan, maka penyetaraan hanya dilakukan pada jumlah atom H pada ruas kiri dan kanan (khusus untuk asam basa bervalensi lebih dari 1)

Contoh 1 (Valensi 1): tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam clorida dengan larutan natrium hidroksida yang menghasilkan larutan natrium clorida dan air.
HCl(aq) + NaOH(aq) --> NaCl(aq) + H2O(l)

Contoh 2 (Valensi 2): tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam sulfat dengan larutan calsium hidroksida yang menghasilkan larutan calsium sulfat dan air.
H2SO4(aq) + Ca(OH)2(aq) --> CaSO4(aq) + 2 H2O(l)

Kelompok 2: Larutan asam yang bervalensi lebih dari 1 (misalnya H2SO4, H2S, H3PO4) sedangkan basa bervalensi 1 (NaOH, KOH, LiOH).

Aturan yang dipakai dalam menyetarakan reaksi asam basa adalah sebagai berikut:
1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
2. Setarakan jumlah sisa basa (logam) pada garam
3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.


Contoh 1: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam sulfat dengan larutan natrium hidroksida yang menghasilkan larutan natrium sulfat dan air.

1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
H2SO4 + NaOH --> Na2SO4 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa basa (logam) pada garam: yaitu Na
H2SO4 + 2 NaOH --> Na2SO4 + H2O

3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
H2SO4 + 2 NaOH --> Na2SO4 + 2 H2O

4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
H2SO4(aq) + 2 NaOH(aq) --> Na2SO4(aq) + 2 H2O(l)

Contoh 2: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam posfat dengan larutan kalium hidroksida yang menghasilkan larutan kalium posfat dan air.

 1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
H3PO4 + KOH --> K3PO4 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa basa (logam) pada garam: yaitu K
 H3PO4 + 3 KOH --> K3PO4 + H2O

3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
H3PO4 + 3 KOH --> K3PO4 + 3 H2O

4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
H3PO4(aq) + 3 KOH(aq) --> K3PO4(aq) + 3 H2O(l)

Kelompok 3: Larutan asam yang bervalensi 1 (misalnya HCl, HBr, HNO3) sedangkan basa bervalensi lebih dari 1 {Ca(OH)2, Mg(OH)2, Al(OH)3}.

Aturan yang dipakai dalam menyetarakan reaksi asam basa adalah sebagai berikut:
1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
2. Setarakan jumlah sisa asam (non logam) pada garam
3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.


Contoh 1: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam clorida dengan larutan magnesium hidroksida yang menghasilkan larutan magnesium clorida dan air.

1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
HCl + Mg(OH)2 --> MgCl2 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa asam (non logam) pada garam: yaitu Cl
2 HCl + Mg(OH)2 --> MgCl2 + H2O

3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
2 HCl + Mg(OH)2 --> MgCl2 + 2 H2O

4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
2 HCl(aq) + Mg(OH)2(aq) --> MgCl2(aq) + 2 H2O(l)

Contoh 2: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam nitrat dengan larutan aluminium hidroksida yang menghasilkan larutan aluminium nitrat dan air.

1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
HNO3 + Al(OH)3 --> Al(NO3)3 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa asam pada garam: yaitu NO3
3 HNO3 + Al(OH)3 --> Al(NO3)3 + H2O

3. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
3 HNO3 + Al(OH)3 --> Al(NO3)3 + 3 H2O

4. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
3 HNO3(aq) + Al(OH)3(aq) --> Al(NO3)3(aq) + 3H2O(l)

Kelompok 4: Larutan asam bervalensi 2 (misalnya H2S, H2SO4, H2CO3) sedangkan basa bervalensi 3 {Fe(OH)3, Al(OH)3}; atau Larutan asam bervalensi 3 (H3PO4) sedangkan basa bervalensi 2 {Mg(OH)2, Ca(OH)2}

Aturan yang dipakai dalam menyetarakan reaksi asam basa adalah sebagai berikut:
1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
2. Setarakan jumlah sisa asam pada garam
3. Setarakan jumlah sisa basa pada garam
4. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
5. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.

Contoh 1: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam karbonat dengan larutan aluminium hidroksida yang menghasilkan larutan magnesium clorida dan air.

1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
H2CO3 + Al(OH)3 --> Al2(CO3)3 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa asam pada garam: yaitu CO3
3 H2CO3 + Al(OH)3 --> Al2(CO3)3 + H2O

3. Setarakan jumlah sisa basa pada garam: yaitu Al
3 H2CO3 + 2 Al(OH)3 --> Al2(CO3)3 + H2O

4. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
3 H2CO3 + 2 Al(OH)3 --> Al2(CO3)3 + 6 H2O

5. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
3 H2CO3(aq) + 2 Al(OH)3(aq) --> Al2(CO3)3(aq) + 6 H2O(aq)

Contoh 2: tuliskan persamaan reaksi antara larutan asam posfat dengan larutan magnesium hidroksida yang menghasilkan larutan magnesium posfat dan air.

1. Tuliskan persamaan reaksi belum setara
H3PO4 + Mg(OH)2 --> Mg3(PO4)2 + H2O

2. Setarakan jumlah sisa asam pada garam: yaitu PO4
2 H3PO4 + Mg(OH)2 --> Mg3(PO4)2 + H2O

3. Setarakan jumlah sisa basa pada garam: yaitu Mg
2 H3PO4 + 3 Mg(OH)2 --> Mg3(PO4)2 + H2O

4. Setarakan jumlah atom H pada kedua ruas
2 H3PO4 + 3 Mg(OH)2 --> Mg3(PO4)2 + 6 H2O

5. Tuliskan persamaan reaksi setara serta wujud zatnya.
2 H3PO4(aq) + 3 Mg(OH)2(aq) --> Mg3(PO4)2(aq) + 6 H2O(aq)

Persamaan reaksi pembakaran hidrokarbon, klik di sini.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 21, 2013

November 20, 2013

Penentuan Persamaan Laju Reaksi

November 20, 2013 4
Jejaring Kimia - pada materi kimia kali ini akan dibahas beberapa cara untuk menentukan persamaan laju reaksi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan persamaan laju reaksi. Metode yang digunakan dalam penentuan persamaan laju reaksi adalah metode laju awal, metode terisolasi, dan metode laju terintergrasi.

Metode penentuan persamaan laju reaksi

Metode penentuan persamaan laju reaksi dengan laju awal yaitu dengan melibatkan pengukuran laju reaksi pada awal reaksi untuk beberapa konsentrasi awal zat-zat pereaksi.
Metode penentuan persamaan laju reaksi dengan metode terisolasi yaitu semua konsentrasi dari pereaksi dibuat berlebih kecuali untuk satu jenis pereaksi. Sebagai contoh pada reaksi berikut:

A + B --> Produk reaksi

Jika pereaksi A dibuat berlebih, maka konsentrasi A selama percobaan dapat dianggap konstan. Dari sini, kita dapat menentukan laju reaksi dari B yaitu vB. Dengan cara yang sama, jika konsentrasi B dibuat berlebih, maka kita dapat menentukan laju reaksi dari A yaitu vA, sehingga laju reaksi keseluruhan untuk reaksi ini adalah:

v = vA x vB

Metode penentuan persamaan laju reaksi dengan metode laju terintegrasi banyak digunakan untuk reaksi kompleks di mana persamaan laju reaksinya melibatkan zat-zat pereaksi dan produk reaksi. Di dalam metode laju terintegrasi, terdapat beberapa bentuk persamaan laju yang baku untuk setiap orde reaksi. Selanjutnya kita mencoba mencocokkan data hasil percobaan dengan persamaan laju yang baku tersebut.

Metode laju awal dalam penentuan persamaan laju reaksi

pada materi kimia tentang penentuan persamaan laju reaksi kali ini hanya akan membahas metode laju awal yang umum diajarkan ditingkat Sekolah Menengah Atas SMA.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang metode laju awal dalam penentuan persamaan laju reaksi, simak contoh reaksi antara nitrogen oksida NO dengan klorin Cl2 berikut:

2NO(g) + Cl2(g) --> 2NOCl(g)

Terhadap reaksi di atas, dilakukan pengukuran untuk 3 set konsentrasi NO dan Cl2 yang berbeda seperti pada tabel berikut:

Tabel hasil eksperimen laju reaksi NO dengan Cl2 (T = 27oC)

Beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum menentukan persamaan laju reaksi adalah sebagai berikut:
  1. Tetapan laju reaksi (k) bergantung pada jenis reaksi dan suhu reaksi. Satuan untuk k tergantung dari orde reaksi keseluruhan dari persamaan laju reaksi
  2. Orde reaksi adalah bilangan pangkat yang menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi zat pereaksi terhadap laju reaksi.
Perhatikan table eksperimen laju reaksi di atas:
Dari percobaan 1 dan 2, ketika [Cl2] dibuat 2x lipat ([NO] dibuat tetap), laju reaksinya menjadi 2x lipat dari sebelumnya.
Perhatikan juga percobaan 2 dan 3, ketika [NO] dibuat 2x lipat ([Cl2] dibuat tetap), laju reaksi menjadi 4x lipat dari sebelumnya. Artinya laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi dan/ orde reaksi.
Untuk menentukan persamaan laju reaksi, ikuti prosedur berikut:

A + B --> Produk reaksi

1. Buat persamaan reaksinya : v = k [A]x [B]y

2. Tentukan orde masing-masing pereaksi
Untuk menentukan orde pereaksi A yaitu x, lihat 2 percobaan yang nilai [B] tetap
Untuk menentukan orde pereaksi B yaitu y, lihat 2 percobaan yang nilai [A] tetap

3. Masukkan nilai orde yang telah diperoleh ke dalam persamaan reaksi di atas.

Secara matematis, penentuan persamaan laju untuk data di atas adalah sebagai berikut:
1. Persamaan laju reaksi :
V = k [NO]x [Cl2]y

2. Orde reaksi
Orde pereaksi NO, x . . . ? (percobaan 2 dan 3)

persamaan laju reaksi

Orde pereaksi Cl2, y . . . ? (percobaan 1 dan 2)

persamaan laju reaksi


3. Berdasarkan nilai orde masing-masing pereaksi di atas, maka diperoleh persamaan laju reaksi :
V = k [NO]x [Cl2]y
V = k [NO]2 [Cl2]1
V = k [NO]2 [Cl2]
Ada cara sederhana untuk menghitung orde reaksi dalam penentuan persamaan laju reaksi. Cara sederhana dalam menentukan persamaan laju reaksi adalah sebagai berikut:
Orde pereaksi NO, x . . . ? (percobaan 2 dan 3)

persamaan laju reaksi

2x = 4 --> x = 2
Orde pereaksi Cl2, y . . . ? (percobaan 1 dan 2)
persamaan laju reaksi

2y = 2 --> y = 1

Jadi persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
V = k [NO]2 [Cl2]

Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 20, 2013

November 15, 2013

Benarkah Kimia itu Sulit???

November 15, 2013 0
Benarkah Kimia itu Sulit???
 
hehe...
assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh...
salam kenal, saya adalah penulis baru di blog ini... :D
kebetulan sekali ini adalah tulisan perdana saya di sini...
 
oke gak usah berpanjang-panjang lagi, langsung aja kita ke pembahasan kali ini...
dari judulnya aja dari kejauhan udah ketahuan bahwa tulisan ini saya tujukan pada dua sasaran, atau bahasa keren kimianya “dualisme tujuan”. hal ini bisa ditujukan kepada murid-murid yang sudah belajar kimia dan mempunyai pola pikir yang negatif tentang kimia sehingga mereka merasa kimia itu sulit, atau juga bisa untuk para guru yang mungkin di luar sana sedang kesulitan dalam mengajarkan kimia. Wah keren banget nih...(padahal...).
 
lantas caranya gimana?
Jawabannya gampang, sebuah teknik yang gak perlu pake modal yang mahal. Hanya kemauan dan tekad yang kuat untuk berubah, untuk para adik-adikku yang belajar kimia, dan juga para guru sahabatku...
Pada dasarnya apa yang saya lakukan adalah mengubah pola pikir anda tentang kimia itu sendiri, mengapa? Karena percaya atau tidak, anda sadar atau tidak, setiap tingkah laku yang anda lakukan itu bergantung pada pola pikir dan pemahaman anda terhadap sesuatu. Mau bukti???
 
Di kehidupan sehari-hari hal ini sangat mudah kita temukan, manusia normal takkan pernah dengan sengaja membakar tangannya sendiri dengan api (misalnya taruh tangan sendiri di kompor gas), mengapa? Karena kita faham betul bahwa api itu panas dan kalor yang dihasilkan dari api itu sendiri cukup untuk membuat kita menderita luka bakar yang cukup serius pada kondisi tertentu.
Hal ini juga sama kejadiannya jika ada dua orang laki-laki, yang satu tidak bisa berenang dan yang lain bisa. Tentu reaksi/respon kedua orang ini akan berbeda ketika bertemu dengan kolam/sungai. Yang “merasa” pandai berenang akan dengan enjoy terjun ke air tersebut, lain halnya dengan orang yang “merasa” tidak bisa berenang, dia akan cenderung untuk menghindari air tersebut. Yap, it’s all about “merasa”. Yakni bagaimana cara pandang/respon kita terhadap sesuatu. Hal inilah yang terkadang membuat siswa ketika mempelajari kimia ia bisa sangat tertarik sekali, biasa-biasa saja, atau bahkan menjadi sebuah hal yang menakutkan. Kalo memang respon siswa sudah positif ya memang tidak masalah, namun masalah muncul ketika siswa menganggap pelajaran kimia adalah hal yang sulit atau bahkan menakutkan. Dengan sebab si siswa “merasa” tidak bisa, dan akan diperparah dengan guru yang mengajar tidak berinovasi agar membuat siswa merasa “bisa” maka hal ini sangat berpengaruh pada pembelajaran kimia di sekolah.
Nah kalo sudah begini, ternyata sekarang kita faham ternyata pola pikir sangat mempengaruhi pemahaman kita, “Senangi apa yang kamu pelajari” jangan “pelajari apa yang kamu senangi” karena banyak sekali hal yang tidak kita senangi di dunia ini padahal ia kita sangat memerlukan hal tersebut.
Dulu saat saya menjadi siswa, saya juga hampir berfikiran seperti itu, namun guru saya mampu memberikan sebuah kesan yang membuat saya menyukai kimia. Mengapa? Karena beliau langsung menghubungkan pelajaran kimia dengan kehidupan kita sehari-hari, apa-apa saya reaksi kimia di dalam rumah kita yang tanpa kita sadari sedang berlangsung, dampak positif dan negatif dari suatu bahan kimia, de el el yang membuat saya berfikir bahwa kimia adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang zat/materi yang sangat diperlukan di dalam kehidupan ini.
Alhasil saya malah sangat tertarik dengan ilmu kimia, jadi jangan takut lagi sama yang namanya kimia ya, kita sebagai siswa atau sebagai guru harus sama-sama mencari metode terbaik bagaimana caranya agar belajar kimia menjadi suatu hal yang mengasyikkan bukan hal yang menakutkan.
Hare gene gak belajar kimia>??? Haloo...
Kudet abis deh...
Apalagi sekarang pada lagi marak bahan-bahan tambahan makanan sintetis pada makanan yang berbahaya untuk kesehatan. Jadi semua orang pada kudu tahu tuh ilmu kimianya, minimal dari smp sekarang kan sudah belajar ya toh? :D
Semangat!!!
Semoga tulisan ini bermanfaat...
Siswa Bisa Guru Bahagia :D
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 15, 2013

Teori Kondisi Transisi (Materi Laju Reaksi)

November 15, 2013 3
Selain teori tumbukan, ada beberapa teori lain yang terkait dengan laju reaksi. Salah satunya adalah teori kondensasi transisi. Teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan secara rinci apa yang terjadi sewaktu partikel-partikel pereaksi bertumbukan. Untuk menjelaskan teori ini, kita ambil contoh tumbukan yang terjadi antara NO dan O3 berikut. Suatu tumbukan efektif dapat terjadi jika partikel-partikel pereaksi juga mempunyai orientasi yang tepat pada saat bertumbukan. Seperti pada reaksi gas NO dengan Ozon berikut ini:
NO (g) + O3 (g) --> NO2 (g) + O2 (g)
 
 teori kondisi transisi
Keterangan:
A. Orientasi partikel-partikel tidak tepat sehingga tidak menghasilkan tumbukan efektif
B. Orientasi partikel-partikel telah tepat sehingga menghasilkan tumbukan efektif. Dengan demikian, dihasilkan produk reaksi NO2 dan O2.

Pada gambar di atas, sewaktu partikel NO dan O3 bergerak mendekat, electron terluar dari kedua partikel menimbulkan gaya tolak-menolak dan menyebabkan kedua partikel mengalami perlambatan. Dengan kata lain, energy kinetic partikel (Ek) akan berkurang, sedangkan energy potensial (Ep) bertambah. (Menurut hokum kekekalan energy, E = Ek + Ep. Jika Ek berkurang, maka Ep bertambah, begitu pula sebaliknya). Apabila Ek kedua partikel tidak mencukupi , maka keduanya akan berhenti dan tumbukan tidak akan terjadi. Sebaliknya, jika kedua partikel memiliki Ek yang cukup dan orientasi yang tepat, maka keduanya akan dapat mengatasi gaya tolak-menolak dan terjadi tumbukan. Pada saat terjadi tumbukan, partikel NO dan O3 akan bergabung melalui ikatan N --- O membentuk gugus atom yang tidak stabil yang disebut kompleks teraktivasi. Selama proses berlangsung, ikatan O - O pada O3 yang tidak sekuat ikatan N = O pada NO, akan melemah dan ditulis sebagai ikatan O --- O. (Klik gambar untuk memperjelas tulisan)

teori kondisi transisi

(NO dan O3 mempunyai struktur resonansi)
Pada saat bersamaan, energy kinetic tumbukan diserap oleh kompleks teraktivasi menjadi energy vibrasi atom-atomnya (energy potensial). Energy ini akan terkonsentrasi pada ikatan N --- O dan O --- O dan dapat bergerak antara kedua ikatan tersebut. akibat adanya pergerakan energy, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi:
  1. Apabila energy yang cukup terkonsentrasi pada ikatan N --- O, maka ikatan N --- O akan putus dan kompleks teraktivasi akan berubah kembali menjadi pereaksi NO dan O3. Dengan kata lain, terjadi tumbukan gagal.
  2. Apabila energy yang cukup terkonsentrasi pada ikatan O --- O, maka ikatan O --- O akan putus dan kompleks teraktivasi akan membentuk produk reaksi NO2 dan O2. Dengan kata lain, terjadi tumbukan efektif. Tumbukan gagal, dan tumbukan efektif ini ditunjukkan oleh diagram energy potensialnya. (klik gambar untuk memperjelas)

teori kondisi transisi

Pada gambar di atas:
  1. Tumbukan gagal; kompleks teraktivasi berubah kembali menjadi partikel-partikel pereaksi
  2. Tumbukan efektif; kompleks teraktivasi membentuk partikel-partikel produk reaksi.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: November 15, 2013

Post Top Ad