PENCEMARAN AIR

Pencemaran air adalah memasuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Salah satu penyebab menurunnya kualitas air adalah limbah buangan industri dari penambangan dan industri yang dibuang ke perairan. Limbah merupakan konsekuensi logis dari setiap pendirian penambangan. Limbah yang mengandung senyawa kimia berbahaya dan beracun dengan konsentrasi tertentu lepas ke dalam lingkungan menciptakan pencemaran air. Limbah hasil penambangan emas di Kabupaten Sambas berupa merkuri. Dalam penambangan emas ,merkuri digunakan untuk memisahkan emas dari pengotornya.

Batas bahan pencemar logam berat merkuri yang diperbolehkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 adalah seperti yang di tunjukkan pada tabel berikut:
Tabel Kadar logam berat merkuri berdasarkan kelas

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001

Sedangkan WHO menetapkan batasan kandungan merkuri maksimal adalah 0,0001 ppm untuk air (Slamet, 1984). Jika kadar merkuri pada perairan sungai telah melebihi batas seperti ketentuan yang telah diatur oleh PP No 82 Tahun 2001, maka dapat dikatakan bahwa perairan tersebut telah tercemar logam merkuri. Sebagai konsekuensi dari pencemaran ini, maka Pemerintah mengeluarkan aturan tentang sangsi bagi yang telah melakukan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup yang diatur dalam PP No 82 Tahun 2001 Pasal 50 yang berbunyi “Setiap perbuatan yang melanggar hukum berupa pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup, mewajibkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk membayar ganti kerugian dan atau melakukan tindakan tertentu.

SUMBER:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR.
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

Teknik analisis yang biasa digunakan untuk mengetahui kadar suatu logam berat dalam perairan adalah teknik spektrofotometri serapan atom (SSA). Prinsip dari spektrofotometri ini adalah penyerapan energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom-atom netral dalam keadaan dasarnya.

Cuplikan yang diukur oleh SSA berupa larutan, biasanya air sebagai pelarut. Larutan cuplikan mengalir ke dalam ruang pengkabutan, karena terhisap oleh aliran gas bahan bakar dan oksigen yang cepat. Di dalam AAS, nyala berguna untuk pembentukan atom. Atom-atom unsur logam dapat menyerap sinar dengan panjang gelombang tertentu. Penyerapan sinar ini sebanding dengan konsentrasi atom-atom dalam nyala. Setiap pengukuran dengan AAS kita harus menggunakan hallow cathode khusus. Hallow cathode akan memancarkan energi radiasi yang sesuai dengan energi yang diperlukan untuk transisi elektron atom. Dengan mengukur penyerapan cahaya oleh atom-atom dalam nyala maka konsentrasi unsur logam dalam cuplikan dapat ditentukan. Sebelum dilakukan pengukuran absorbans, cuplikan harus dilarutkan dulu baik dalam air ataupun dalam asam hingga diperoleh larutan homogen.

Metode AAS ini berguna untuk menentukan konsentrasi ion logam yang rendah (ppm sampai ppb). Contohnya adalah penentuan kadar logam berat merkuri dalam perairan sungai.
SUMBER DAYA AIR

SUMBER DAYA AIR

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang dimaksud dengan:
  1. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.
  2. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
  3. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
  4. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan serta lingkungannya.
Dalam suatu perairan, tidak pernah terlepas dari mutu air itu sendiri, karena air merupakan salah satu sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas:
  1. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
  2. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
  3. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman , dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut.
  4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001).
Berdasarkan sifatnya, air termasuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Menurunnya kualitas air, baik air permukaan maupun air tanah, dapat disebabkan oleh dua masalah yaitu adanya pencemaran dan rusaknya lingkungan sumber air. Kedua masalah tersebutakan menurunkan kemampuan alam dalam menyediakan air bersih yang layak untuk berbagai keperluan, terutama untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berbagai gangguan kesehatan penduduk sering kali terjadi karena mengkonsumsi air yang telah tercemar oleh berbagai bahan kimia berbahaya, salah satunya adalah logam berat merkuri.

SUMBER:

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR.

Platinum [Pt]

Characteristics

An: 78 N: 117
Am: 195.078 g/mol
Group No: 10
Group Name: Precious metal or platinum group metal
Block: d-block Period: 6
State: solid at 298 K
Colour: greyish white Classification: Metallic
Boiling Point: 4098K (3825°C)
Melting Point: 2041.4K (1768.3°C)
Critical temperature: 0K (0°C)
Superconducting temperature: 0K (0°C)
Density: 21.45g/cm3

Discovery Information

Who: Antonio de Ulloa and Don Jorge Juan y Santacilia
When: 1734
Where: Peru

Name Origin

Spanish: platina (little silver).
"Platinum" in different languages.

Sources

Produced from ores called native platinum. Primary producers are Russia, Canada, South Africa, Colombia and Peru. Annual production is around 30 tons.


A rod of solid platinum weighing 21 troy ounces. At July 2006 prices this rod is worth around US$25,500.

Abundance

Universe: 0.005 ppm (by weight)
Sun: 0.009 ppm (by weight)
Carbonaceous meteorite: 0.1 ppm
Earth’s Crust: 0.0037 ppm
Seawater: Atlantic surface: n/a ppm; Atlantic deep: n/a ppm; Pacific surface: 1.1 x 10-7 ppm; Pacific deep: 2.7 x 10-7 ppm

Uses

Used in jewellery, to make crucibles, special containers, as a catalyst (in catalytic converters fixed to cars), in dental crowns, as an anti-tumor agent and to make standard weights and measures. It is also combined with cobalt to produce very strong magnets.

History

Naturally-occurring platinum and platinum-rich alloys have been known for a long time. Though the metal was used by pre-Columbian Native Americans, the first European reference to platinum appears in 1557 in the writings of the Italian humanist Julius Caesar Scaliger (1484-1558) as a description of a mysterious metal found in Central American mines between Darien (Panama) and Mexico ("up until now impossible to melt by any of the Spanish arts"). The word platinum comes from the Spanish word platina, meaning "little silver."
Platinum was discussed by astronomer Antonio de Ulloa and Don Jorge Juan y Santacilia (1713-1773), both appointed by King Philip V to join a geographical expedition in Peru that lasted from 1735 to 1745. Among other things, Ulloa observed the platina del pinto, the unworkable metal found with gold in New Granada (Colombia). British privateers intercepted Ulloa’s ship on the return voyage. Though he was well-treated in England, and even made a member of the Royal Society he was prevented from publishing a reference to the unknown metal until 1748. Before that could happen Charles Wood independently isolated the element in 1741.

Notes

Discovered by astronomer Antonio de Ulloa and Don Jorge Juan y Santacilia during a geographical expedition in Peru that lasted from 1735 to 1745. Ulloa observed the unworkable metal found with gold in New Granada (Colombia). British privateers intercepted Ulloa’s ship on the return voyage. Though he was well-treated in England, and even made a member of the Royal Society he was prevented from publishing a reference to the unknown metal until 1748. It is thought that Charles Wood independently isolated the element in 1741.
The Italian humanist Julius Caesar Scaliger makes the first European reference to Platinum in 1557, as a description of a mysterious metal found in Central American mines between Darien (Panama) and Mexico.
Platinum is considered a precious metal and is traded on the world’s commodities exchanges, it’s price fluctuates with availability, but is usually around twice that of gold.

Platinum Compounds

Oxaliplatin C8H12N2O4Pt : A platinum-based chemotherapy drug.

Reactions of Platinum

Reactions with air
Platinum metal does not normally react with air or oxygen.

Reactions with halogens
Careful control of the reaction between platinum metal and fluorine gas results in either the volatile platinum(VI) fluoride, PtF6 or the tetrameric platinum(V) fluoride, (PtF5)4. The latter posseses the same type of structure as (IrF5)4, (RhF5)4, (OsF5)4, and (RuF5)4, and disproportionates into platinum(VI) fluoride and platinum(IV) fluoride.
Pt(s) + 3F2(g) --> PtF6(s)
4Pt(s) + 10F2(g) --> (PtF5)4(s)
(PtF5)4(s) + PtF6(g) --> PtF4(s)
Tetrachloride, tetrabromide and tetraiodide are formed in the reactions of platinum metal and the respective halogens.
Pt(s) + 2Cl2(g) --> PtCl4(s)
Pt(s) + 2Br2(g) --> PtBr4(s)
Pt(s) + 2I2(g) --> PtI4(s)
Platinum(II) chloride is also formed in the controlled reaction of platinum metal and chlorine. Depending upon the reaction conditions, one of two different forms of PtCl2 is formed.
Pt(s) + Cl2(g) --> PtCl2(s)

Occurrence of Platinum

Platinum is an extremely rare metal, occurring as only 5 ppb in the Earth’s crust. In 2005, South Africa was the top producer of platinum with almost 80% world share followed by Russia, Canada and Botswana, reports the British Geological Survey.
Platinum is often found chemically uncombined as native platinum and alloyed with iridium as platiniridium. The platinum arsenide, sperrylite (PtAs2), is a major source of platinum associated with nickel ores in the Sudbury Basin deposit in Ontario, Canada. The rare sulfide mineral cooperite, (Pt,Pd,Ni)S, contains platinum along with palladium and nickel. Cooperite occurs in the Merensky Reef within the Bushveld complex, Gauteng, South Africa.
Platinum, often accompanied by small amounts of other platinum family metals, occurs in alluvial placer deposits in the Witwatersrand of South Africa, Colombia, Ontario, the Ural Mountains, and in certain western American states.
Platinum is produced commercially as a by-product of nickel ore processing in the Sudbury deposit. The huge quantities of nickel ore processed makes up for the fact that platinum is present as only 0.5 ppm in the ore.

Isotopes of Platinum

190Pt [112 neutrons]
Abundance: 0.01%
Half life: 6.5 x 1011 years [ Alpha Decay ]
Decay Energy: 3.18 MeV
Decays to 186Os.

191Pt [113 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 2.96 days [ Electron Capture ]
Decay Energy: ? MeV
Decays to 191Ir.

192Pt [114 neutrons]
Abundance: 0.79%
Stable wiht 114 neutrons

193Pt [115 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 4.33 days
Decay Energy: 0.1355 MeV
Decays to 193Pt.

193Pt [115 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 50 years [ Electron Capture ]
Decay Energy: ? MeV
Decays to 193Ir.

194Pt [116 neutrons]
Abundance: 32.9%
Stable with 116 neutrons

195mPt [117 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 4.02 days
Decay Energy: 0.1297 MeV
Decays to 195Pt.

195Pt [117 neutrons]
Abundance: 33.8%
Stable with 117 neutrons

196Pt [118 neutrons]
Abundance: 25.3%
Stable with 118 neutrons

197mPt [119 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 1.59 hours
Decay Energy: 0.3456 MeV
Decays to 197Pt.

197Pt [119 neutrons]
Abundance: synthetic
Half life: 19.8913 hours [ beta- ]
Decay Energy: 0.719 MeV
Decays to 197Au.

198Pt [120 neutrons]
Abundance: 7.2%
Stable with 120 neutrons

GET NEW INFORMATION

SOCIAL NETWORK

CB Blogger