Maret 2010 - Jejaring Kimia

Hot

Post Top Ad

Maret 24, 2010

Menghitung Massa Atom Relatif dan Molekul Relatif

Maret 24, 2010
Pada awal abad ke XX, para ahli kimia melakukan percobaan untuk menghitung massa satu atom. Dari percobaan diperoleh:
  • Massa satu atom H : 1.66 x 10-24 gram
  • Massa satu atom O : 2.70 x 10-23 gram
  • Massa satu atom C : 1.99 x 10-23 gram
Dari data tersebut, massa satu sangat kecil sekali. Maka para ahli sepakat menggunakan besaran Satuan Massa Atom (sma) atau atomic massa unit (amu) atau biasa disebut juga satuan Dalton
Massa atom relatif (Ar) menyatakan perbandingan massa rata-rata satu atom suatu unsur terhadap 1/12 massa atom C-12 atau dapat dituliskan:
masa atom dan molekul relatifUntuk menghitung massa satu atom unsure X, maka dapat dihitung dengan rumus:
masa atom dan molekul relatifMassa atom relatif (Ar) dapat juga dilihat langsung pada tabel sistem periodik pada masing-masing unsur. Biasanya terletak di pojok kiri atas.
Molekul adalah gabungan dari beberapa unsur dengan perbandingan tertentu. Unsur-unsur yang sama membentuk molekul unsur, sedangkan unsur-unsur yang berbeda membentuk molekul senyawa. Massa molekul unsur atau senyawa dinyatakan oleh massa molekul relatif (Mr). Massa molekul relatif (Mr) adalah perbandingan massa molekul unsur atau senyawa terhadap 1/12 x masssa atom C-12. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
masa atom dan molekul relatifmasa atom dan molekul relatifMassa molekul relatif juga dapat dihitung dengan menjumlahkan massa atom relatif (Ar) unsur-unsur penyusun molekul dengan rumus sebagai berikut:

masa atom dan molekul relatifx, y, z = indeks/jumlah atom A (untuk x), B (untuk y), dan C (untuk z)
Ar = massa atom relatif masing-masing unsur (dapat dilihat pada tabel sistem periodik)
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Maret 24, 2010

Maret 18, 2010

Karakteristik Kromatografi Kolom dan Lapis Tipis

Maret 18, 2010
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknk pemisahan tertentu. Cara asli telah diketengahkan pada tahun 1903 oleh TSWETT, ia telah menggunakannya untuk menggunakan pemisahan senyawa-senyawa yang berwarna, dan nama kromatografi diambil dari senyawa yang berwarna. Meskipun demikian pembatasan untuk senyawa-senyawa yang berwarna tak lama dan hampir kebanyakan pemisahan-pemisahan secara kromatografi sekarang diperuntukkan pada senyawa-senyawa yang tak berwarna, termasuk gas.
Pada dasarnya, semua kromatografi menggunakan dua fase yaitu satu fase tetap (stationary) dan yang lain fase bergerak (mobile). Pemisahan-pemisahan tegantung pada gerakan relative dari dua fase ini. Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat fase tetap, yang dapat berupa zat padat atau zat cair.
Jika fase tetap berupa zat padat maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal sebagai kromatografi partisi. Karena fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua ada empat system kromatografi (Sastrohamidjojo, 1985).

1. Kromatografi Kolom

Kromatografi cair yang dilakukan di dalam kolom besar merupakan metode kromatografi terbaik untuk pemisahan campuran dalam jumlah besar. Pada kromatografi kolom, campuran yang akan dipisahkan diletakkan berupa pita bagian atas kolom penyerap yang berada dalam tabung kaca, tabung logam atau bahkan tabung plastic. Pelarut (fase gerak) dibiarkan mengalir melalui kolom karena aliran ini disebabkan oleh gaya berat atau di dorong dengan tekanan (Schwarting, 1991).
Zat penyerap (misalnya aluminium oksida yang telah diaktifkan, silica gel, kilsegur terkalsinaasi, dan kilsegur kromatografi murni) dalam keadaan kering atau sebagai bubur, dimampatkan ke dalam tabung kaca atau tabung kuwarsa dengan ukuran tertentu dan mempunyai lubang mengalir keluar dengan ukuran tertentu.
Sediaan yang diuji dan dilarutkan dalam sedikit pelarut ditambahkan pada puncak kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam zat penyerap. Zat berkhasiat diserap dari larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada puncak kolom.

Dengan mengalirkan pelarut lebih lanjut, dengan atau tanpa tekanan udara, masing-masing zat bergerak turun dengan kecepatan khas hingga terjadi pemisahan dalam kolom yang disebut kromatogram. Kecepatan bergerak zat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya daya serap zat penyerap, sifat pelarut dan suhu dari system kromatografi. Jika dikehendaki pemisahan beberapa zat khasiat dapat dilakukan dengan mengalirkan selanjutnya pelarut yang sama atau pelarut lain yang mempunya daya elusi yang kuat (Djasman, 1979).

2. Kromatografi Lapis Tipis.

Ide penggunaan kromatografi serapan dalam bentuk lapisan tipis yang dilekatkan pada suatu penyokong telah diketengahkan pada tahun 1938. pertama-tama perlu membuat plat kromatografi, yaitu untuk membentangkan penyerap dalam lapisan tipis yang berkelakuan seperti penyokong yang inert. Penyerap padat yang berbentuk bubukan halus biasanya pertama-tama dibuat menjadi bubur dengan air (kurang umum dengan zat organic yang mudah menguap) dan dibentangkan di atas plat gelas. Pembuatan lapis tipis di atas kaca ada beberapa cara yaitu dengan jalan penyemprotan atau pencelupan. Plat yang telah dilapisi dipanaskan atau diaktifkan dengan jalan memanaskannya pada suhu kira-kira 1000C selama beberapa waktu lamanya.
Kromatografi lapis tipis membutuhkan penyerap dan cuplikan dalam jumlah yang sedikit dan noda-noda yang terpisahkan dilokalisir pada plat seperti pada lembaran kertas. Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi lapis tipis yang juga mempengaruhi harga Rf (Sastrohamidjojo. H, 1985) :
a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
b. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya
c. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.
d. Pelarut dan derajat kemurniannya fase gerak
e. Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan
f. Teknik percobaan
g. Jumlah cuplikan yang digunakan
h. Suhu
i. Kesetimbangan.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Maret 18, 2010

Maret 17, 2010

Struktur dan Sifat Protein

Maret 17, 2010
Terbentuk dari polimerisasi peptida-peptida, sedangkan peptida dibentuk dari polimerisasi asam amino-asam amino.

Struktur protein ada 4:

1. Struktur primer; merupakan ikatan-ikatan peptida dari asam amino-asam amino pembentuk protein tersebut
2. Struktur sekunder; merupakan struktur protein yang menata kerangkanya
3. Struktur tersier; struktur penyempurna protein yang menyelimuti kerangka sehingga memberikan bentuk yang karakteristik
4. Struktur kuartener; struktur yang melibatkan beberapa peptida sehingga terbentuk protein

Sifat-sifat protein:

1. Sukar larut dalam air karena molekulnya yang besar
2. Dapat mengalami koagulasi oleh pemanasan, penambahan asam atau basa
3. Bersifat amfoter karena membentuk zwitter ion
4. Dapat mengalami kerusakan (terdenaturasi) oleh pemanasan
-->
Protein konjugasi adalah senyawa protein yang terikat dengan molekul lain selain protein. Terdiri dari:
1. Nukleoprotein: protein terikat pada asam nukleat. Terdapat pada inti sel dan kecambah biji-bijian
2. Glikoprotein: protein terikat pada karbohidrat. Terdapat pada musin kelenjar ludah, hati, dan tendon
3. Fosfoprotein: protein terikat pada lipida. Terdapat pada serum darah, kuning telur, susu
4. Kromoprotein: protein mengikat pigmen atau ion logam. Misalnya hemoglobin

Uji protein:

1. Uji biuret: uji positif terhadap sampel protein yang mengandung ikatan peptida. Ditandai dengan warna ungu atau merah muda
2. Uji timbal (II) asetat: uji positif terhadap sampel protein yang mengandung belerang. Ditandai dengan warna hitam
3. Uji Xantoproteat: uji positif terhadap sampel protein yang mengandung cincin benzena. Ditandai dengan warna kuning atau jika ditambahkan NaOH akan berubah warna menjadi jingga.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Maret 17, 2010

Maret 16, 2010

METODA PEMISAHAN EKSTRAKSI

Maret 16, 2010
Teknik ekstraksi merupakan teknik pemisahan yang sering dilakukan di laboratorium kimia organic. Hampir tidak ada satupun pekerjaan di laboratorium organic yang tidak melibatkan ekstraksi. Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai metoda pemisahan komponen dari suatu campuran dengan menggunakan suatu pelarut. Dalam praktek, ekstraksi digunakan untuk memisahkan senyawa organic dari larutan air atau suspensi. Solute (zat terlarut) atau bahan yang akan dipisahkan terdistribusi di antara kedua lapisan (organic dan air) berdasarkan kelarutan airnya.

Beberapa solute dapat diekstrak dengan larutan asam atau basa. Misanya senyawa-senyawa fenolik atau asam karboksilat dapat larut dalam larutan basa. Untuk solute yang bersifat basa dapat menggunakan ekstraktan asam klorida encer. Senyawa amoniak atau amina organik akan membentuk garam ammonium yang larut dalam air dengan asam klorida. Untuk solute yang berupa emulsi misalnya susu atau yang lebih mudah larut dalam iar, maka metoda ekstraksi yang digunakan adalah metoda ekstraksi kontinyu.

1. Ekstraksi padat cair

Ekstraksi padat cair merupakan metoda penyarian senyawa dari tumbuhan dimana sampelnya berupa material padat. Ekstraksi padat cair secara umum terdiri dari maserasi, refluktasi, sokhletasi, dan perkolasi. Metoda yang digunakan tergantung dengan jenis senyawa yang kita gunakan. Jika senyawa yang kita ingin sari rentan terhdap pemanasan maka metoda maserasi dan perkolasi yang kita pilih, jika tahan terhadap pemanasan maka metoda refluktasi dan sokletasi yang digunakan.

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simlpasia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut karena adanya berbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif dalam sel dengan di luar sel, larutan yang lebih pekat akan didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Maserasi ini dilakukan dalam suatu bejana yang berisi cairan penyari, dibiarkan selama 5 hari sambil berulang-ulang diaduk kemudian disaring. Bahan dan atau sample yang digunakan antara lain tidak boleh mengandung lemak, styrax, tidak boleh mengembang di atas cairan penyari pada saat melakukan maserasi.

2. Ekstraksi cair-cair

Pemisahan suatu zat dalam larutan oleh pelarut lain yang tidak dapat bercampur adalah suatu proses kesetimbangan dan pada proses ini berlaku hukum distribusi. Tipe pemisahan ini memindahkan zat terlarut dari satu pelarut ke pelarut lain. Cara ini dapat digunakan untuk memisahkan produk reaksi atau suatu larutan. Dalam hal ini pelarut yang digunakan harus tidak saling bercampur, jika kedua pelarut saling bercampur maka tidak dapat digunakan.

Pemilihan pelarut pengekstrak amatlah penting, karena akan menentukan apakah zat-zat terlarut tertinggal dalam corong pisah atau terbawa pelarut yang dikeluarkan.
Read More
Rino Safrizal
Jejaring Kimia Updated at: Maret 16, 2010

Post Top Ad